Mereka Sedang Dahaga…

Ray dan ayahnya  sedang berjalan-jalan di kawasan car free day (CFD) di kota mereka, kebetulan kawasan CFD ini berada di lapangan di tidak terlalu jauh dari rumah Ray, jalan yang ditutup adalah ruas jalan yang termasuk jalan protokol di kota itu, tentunya ramai orang berdatangan ke sana untuk menghabiskan waktu di minggu pagi yang cerah ini.

Sejak dari rumah mereka hingga ke kawasan CFD ini ada sesuatu yang mengganggu Ray, gambar-gambar orang yang mencantumkan nama, nama partai dan nomor yang dia belum tahu untuk apa itu semua. Gambar-gambar yang menampilkan senyum semanis mungkin itu membuat Ray menjadi bingung karena gambar-gambar itu dia lihat di berbagai tempat, di papan reklame, di pohon-pohon, di spanduk, di kaos orang-orang yang sedang berolahraga, di jendela angkot, bahkan di mobil-mobil pribadi yang diparkir di berbagai tempat. Ray semakin tidak habis pikir karena gambar-gambar orang bersenyum ramah meski terkesan dipaksakan itu menampilkan wajah-wajah yang berbeda dan berbagai macam jenis manusia.

Lamunan Ray terhenti karena Ayahnya mengajaknya mampir sejenak di tempat makan, penjual nasi uduk. “kita sarapan dulu ya nak, capek kan daritadi udah jalan..” Ayah menyuruh Ray duduk di sebuah kursi plastik yang sudah disediakan. Bapak pedagang nasi uduk kemudian datang mengantarkan dua piring nasi uduk dan dua gelas teh tawar hangat. Ayah dan anak itu kemudian sarapan dengan santainya.

Orang-orang masih berlalu lalang di sekitar mereka. Sibuk dengan urusan masing-masing ada yang sibuk memilih kaos bermotif batik yang dihamparkan pedagang di sebuah terpal berwarna hitam, ada yang sedang asyik memilih aksesoris hp, di tempat lain ada sepasang remaja yang berjalan sambil bergandengan tangan tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Nasi uduk tidak berapa lama habis mereka santap, Ray kemudian melihat ayahnya dan berkata “yah, gak dibungkus dua lagi nasinya untuk Ibu dan Kakak?” Ayahnya melihat Ray sejenak,  “oh iyaa, baiklah, sebentar Ayah pesan dulu ke bapak itu yaa”. Ayahnya kemudian berlalu mendekati pedagang nasi uduk. Tidak berapa lama Ayah datang dan membawa dua bungkus nasi uduk, mereka kemudian pergi dan berjalan pulang.

Sepanjang jalan Ray masih saja memikirkan soal gambar-gambar manusia itu, gambar-gambar itu semakin ramai belakangan ini, semua pohon-pohon di sekitar rumah Ray, di sekitar sekolah Ray bahkan di pepohonan di tepi jalan menuju masjid dipenuhi gambar-gambar itu. “kenapa Ray? Kok daritadi kayaknya kamu gak memperhatikan jalan? Awas kesandung lho, banyak batu” Ayah yang berjalan di samping Ray mengelus kepalanya perlahan.

“Ini yah, abang daritadi bingung lihat gambar-gambar orang ini? Kok semakin banyak yaa, di pohon-pohon banyak, di angkot banyak, di poster-poster banyak, di mobil-mobil banyak, kemaren di lapangan dekat sekolah abang pun ada orang yang bagi-bagi kaos bergambar orang itu yah, mereka mau apa sebenarnya? Kok tiba-tiba bisa jadi ramah dan pengen dikenalin ya yah?” Ray berceloteh begitu semangat mengeluarkan semua uneg-uneg yang sudah disimpannya beberapa hari ini sejak ada seorang caleg yang mendatangi lapangan dekat sekolah Ray di suatu siang beberapa hari yang lalu.

Ayahnya menghela napas sejenak, anak keduanya ini memang sangat kritis dalam beberapa hal, apa yang mengganggunya akan disimpannya untuk beberapa lama sampai dia tidak tahan untuk menyimpannya sendiri. Mereka berhenti sejenak di bawah pohon mahoni yang menaungi jalan tak jauh dari gerbang rumah mereka. “mereka sedang dahaga Nak, kamu tahu dahaga kan?” Ayahnya bertanya sambil melihat Ray sejenak kemudian melihat poster yang dipakukan ke pohon mahoni itu.

79327394_d6979d6d972

Ray kemudian menjawab, “ iya yah, dahaga itu haus kan? Kok haus malah jadi gitu yah? Bukannya kalau haus itu minum yaa?” Ayahnya kembali melihat Ray dan kemudian tertawa perlahan “ nak, ini bukan haus yang membuat jadi pengen minum. Ini soal haus akan kekuasaan, haus akan kedudukan, haus akan jabatan, haus akan tanggung jawab yang belum tentu mereka sanggup untuk memikulnya kelak, mereka yang memasang gambarnya di berbagai tempat ini sedang mempromosikan dirinya sendiri nak, mereka ingin menjadi orang-orang yang terpilih untuk menjadi anggota DPR dan DPRD, sebentar lagi kan pemilu, nanti bulan April kita akan pemilu nak. Pemilu itu diadakan untuk memilih para anggota DPR dan DPRD, setelah itu kita akan ganti Presiden juga Nak.”

Ray tampak mulai paham atas penjelasan ayahnya, dia kemudian menanggapi dengan polosnya, “apa mereka semua yang pasang gambar itu nanti bakal terpilih yah? Kalau gak terpilih sayang yaa udah capek-capek pasang gambar wajah mereka dimana-mana..” Ayahnya lantas menjawab dengan lugas, “mereka nanti tidak akan terpilih semua nak, paling hanya beberapa, ya itu tadi… mereka yang terpilih adalah mereka yang pandai mengambil hati masyarakat, yang memang sanggup meyakinkan masyarakat kalau mereka mampu menjadi penyambung ide dari masyarakat, anggota DPR dan DPRD itu kan adalah wakil-wakil kita untuk di pemerintahan nak..”

Ray melihat poster yang terpaku di pohon mahoni itu, kemudian melihat kembali ke ayahnya. “tapi yah, gimana mereka mau menjadi penyambung ide dan mewakili kita di pemerintahan saat belum terpilih aja mereka udah merusak lingkungan, itu pohon dipakuin, itu tembok ditempelin, di angkot yang tadinya kita bisa lihat pemandangan di luar angkot dengan jelas jadi kurang jelas karena ketutup sama gambar wajah mereka, kalau dah terpilih pasti tambah parah tuh yah”. Celotehan Ray yang sangat polos membuat Ayahnya tertawa terbahak-bahak. Beliau tidak habis pikir bagaimana anaknya yang masih berumur 11 tahun ini begitu peka dengan kondisi lingkungannya. “marilah kita pulang nak, nanti nasi uduknya dingin lho, ntar gak enak kalau dimakan sama Ibu dan Kakak mu. Ray, kamu harus tahu nak, mereka sedang dahaga, orang yang dahaga seringkali lupa dengan sekitarnya, seringkali dibutakan oleh fatamorgana jadi gak perduli dengan apapun selain air yang bisa memuaskan dahaga mereka”. Ayah menggandeng tangan Ray dan berjalan perlahan. Ray mendongak dan melihat ayahnya, “jadi mereka persis kayak pengembara yang tersesat di padang pasir ya yah??”. Ayah tampak terkejut dengan pertanyaan Ray, dia kemudian tersenyum “tidak semua begitu nak, ada juga mereka yang benar-benar tulus dalam mengajukan dirinya untuk jadi anggota DPR dan DPRD, tapi kebanyakan mereka memang sedang dahaga”.

Mereka tiba di depan gerbang rumah, tampak Ibu dan Lala kakak Ray sedang menyiram bunga di halaman rumah mereka. Ray dan Ayah kemudian masuk dan menyerahkan nasi uduk yang sudah mereka beli. “mereka sedang dahaga bu!” seru Ray kepada ibunya sambil lari ke dalam rumah. Ibu dan Lala saling berpandangan tidak paham sementara Ayah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah anak laki-lakinya.

 

 

 

Sumber gambar : http://d34th-love(dot)blogspot(dot)com/2009/03/perjalanan.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s