Bayi itu dan Ibunya

Siang itu dalam perjalanan ke Travel, Gue memang berencana untuk membeli tiket pulang. Mudik, setelah hampir delapan bulan tidak pulang ke Rumah.  Meresapi hangatnya keluarga yang mungkin sudah hampir sembilan tahun belakangan ini hanya Gue rasakan sesekali.  Yaa, ketika mudik ini.

Nyaris tiba di depan Customer Service Travel itu, Gue sudah menyebut tujuan perjalanan Gue. Tiba-tiba seorang Bapak yang duduk tak jauh dari tempat Gue berdiri menegur Gue. ” Mas, dipanggil Mbak itu tuh” kata Bapak ini. Gue menoleh ke arah yang ditunjuk Bapak tadi, tampak bentuk wajah yang masih Gue kenalin, tapi terlihat lebih kurus dari terakhir kali kami bertemu, di pesta pernikahannya. Yaaa, dia lah teman kuliah Gue, yang kurang lebih 2 tahun lalu menikah dan ternyata sudah memiliki anak berumur 11 bulan.

Ibu Muda ini kemudian keluar, dari rumah makan di sebelah travel itu.  Tampak di sela-sela bibirnya masih ada sedikit remah makanan, Gue salam dia dengan ekspresi heran melihat postur tubuhnya yang semakin kurus dan kuyu.  Dia kemudian sadar dan berkata, “maaf iar, gue lagi gak puasa, maklum harus bawa anak” dia berkata demikian dan melirik ke anak yang ada di gendongannya.  Bayi mungil yang langsung menyunggingkan senyum di bibirnya begitu Gue sentuh kakinya yang menyembul dari balik kain gendongan.  “anak yang ramah” pikir Gue.

Ini siang hari, di bulan Ramadhan, agak aneh rasanya ada seorang Ibu Muda dan Bayinya sedang makan siang di sebuah rumah makan dengan membawa tas yang cukup besar untuk ukuran ibunya yang cukup mungil itu.  Tampaknya teman Gue ini menangkap apa yang ada di pikiran Gue.  Dia kemudian berkata ” ohh, ini Iar, gue lagi nungguin bapaknya Aisyah ini, dia lagi di Jakarta, tadi pagi sih masih di Bogor, tapi kami selisih jalan, gue tadi pagi habis subuh dari Pamulang” .

Sontak Gue menangkap ada yang tidak beres dengan keberadaan mereka di sini. “trus, habis ini mau kemana?” tanya Gue. “Pengennya sih ke rumah Tika, tapi gue gak tau dimana rumahnya” kata Ibu Muda ini. “Loh, mau ke rumah Tika tapi kok gak tahu rumahnya?” Gue makin penasaran.  Ibu Muda ini kemudian menjawab, “iya, tadinya mau ke rumah kos adik kelas bapaknya Aisyah, tapi mereka kan lagi pada libur, yaa terpaksa ke rumah Tika, tapi Tika nya belum ada gue kabarin sih”

Singkat cerita, setelah Gue membayar tiket travel yang Alhamdulillah dapat harga paling murah, gue mengajak Ibu Muda itu ikut Gue ke Kosan.  Niatnya untuk memberikan mereka sekedar tempat bernaung sebelum Suaminya pulang.

Potret rumah tangga di awal pernikahan, tanpa rumah, tanpa tempat tinggal.  Masih hidup dan menumpang di “Pondok Mertua Indah”.  Ketika akhirnya bermasalah dengan orang tua masing-masing mereka sekeluarga akhirnya luntang lantung tanpa tempat bernaung.

Maka, jangan dengarkan mereka yang berkata, menikahlah segera, maka rezeki mu akan dilipatgandakan Allah SWT.  Buat Gue, kutipan itu kurang tepat.  Sesungguhnya Allah SWT melihat kesungguhan kita bukan?? setidaknya sebagai seorang calon kepala keluarga kita para lelaki haruslah sudah menyediakan tempat bernaung buat calon istri dan calon anak kita kelak.  Sehingga saat dunia semakin tidak ramah, rumah tangga muda itu masih memiliki tempat bernaung, ketika tak ada lagi tempat untuk pergi.

Dalam soal pernikahan, jangan pakai semboyan “gimana nanti aja” tapi pakailah semboyan “nanti gimana??” agar rumah tangga yang akan dibangun kelak tidak berantakan ketika badai di awal pernikahan itu menghantam.

 

Itu sih, pelajaran yang Gue ambil dari beberapa teman yang sudah menikah.

 

(._<)9

Sekian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s