Sepakbola dan (fanatisme) Kita

Baru saja gue terduduk di bus MGI yang masih menunggu penumpang di Terminal Leuwipanjang. Belum lagi memperhatikan tv yang sedang menampilkan tayangan bola. Ibu-ibu yang sedang duduk di seberang kursi gue sudah teriak, “Yaaahhh, Gol…! Kok bisa?? Aaahhh, payah..!”

Gue yg masih kaget, kemudian melihat baik-baik televisi yang tergantung di bagian depan bus tepat di sebelah kiri supir. Persita vs Persib sedang main. Saat itu kedudukan masih 1-0 untuk kemenangan Persita. Pantas saja ibu-ibu tadi kecewa, wooww.. Asyik juga lihat ibu-ibu paham sepakbola, dan ini Bandung, dimana fanatisme para masyarakatnya terhadap Persib sangat kental, dan meresap ke semua generasi. Pertandingan itu berakhir 2-2 diselingi teriakan kecewa dan tawa bahagia setiap kali Persib kebobolan atau balik membobol gawang Persita. Dan kau tahu kawan? Terminal Leuwipanjang sore itu, Sabtu, 25 Mei 2013 relatif sepi, padahal itu hari libur dan Bandung setiap hari libur adalah kota yang sangat sibuk.

Seperti photo di atas, penghuni terminal, dari mulai pedagang asongan, calo, kondektur, supir dan penumpang, bahkan mungkin preman atau copet berbaur, mendongakkan kepala menonton televisi yang menggantung di teras kantor Kepala Terminal. Fanatisme yang menakjubkan.

Begitulah kita, fenomena ini akan juga kalian saksikan di Medan kala PSMS berlaga, di Surabaya kala Persebaya menjamu tamunya, di Jakarta kala Persija tampil di depan pendukungnya, di Malang kala Arema main di stadion Kanjuruhan, atau di kota-kota lain dimana ada tim sepakbola kebanggaan kota tersebut berada.

Fanatisme akan tim sepakbola kota masing-masing ini adalah energi potensial bagi kemajuan kota tersebut. Meski belakangan ini semakin dirusak oleh para maniak oportunis yang mencoba mengambil keuntungan. Dualisme liga, dualisme tim, biaya yang cukup besar untuk mengikuti kompetisi yang tak pernah beres, seringkali merusak unsur hiburan bagi para pendukung.

Sepakbola adalah milik kita semua. Seperti masyarakat Bandung yang bangga akan Persibnya. Inilah salah satu hiburan yang universal. Jika masih saja ada kisruh di sepakbola kita, apa lagi yang bisa dijadikan pelepas kepenatan di antara ratusan juta penikmat sepakbola di negara kita ini??

Kita mungkin senang menonton pertandingan sepakbola di layar kaca, tim-tim besar Eropa, layaknya MU, Real Madrid atau Barcelona pastilah memberi tontonan sepakbola yang menarik. Tapi menurut gue, tak ada yang bisa menggantikan kebanggaan kita kepada tim sepakbola kota sendiri.

Seperti gue terhadap PSMS.

Mari, berharap, sepakbola negeri sendiri semakin baik dan maju.

Sekian.
⌣_⌣


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s