Ojek Payung

Awalnya sih karena stuck di Botani Square, maka akhirnya Gue memutuskan untuk pakai jasa ojek payung. Gimana cerita awalnya? Baiklah ini dia Gue cerita dari awal.

Hari ini cukup menyenangkan di Jakarta, jalanan sepi, karena penduduknya, yang biasa memakai mobil pasti sedang menenangkan diri di Puncak, sebelum besok macet-macetan di jalan balik ke Jakarta. Refreshing yang aneh. ⌣_⌣

Gue ikut mobil Pak Is dari kantor, setelah “insiden” bayar tol 4 kali lipat, yang hanya ditertawakan oleh Pak Is, Gue turun di daerah Warung Jambu, keluar pintu tol Bogor Outer Ring Road. Jam 3 Gue sudah di Botani Square, sementara janjian dengan Samsul dan Raka jam 4.

Okey, singkat cerita.
Setelah makan malam di restoran Jepang rasa Indonesia karena minumannya teh botol ……….. *sensor* akhirnya Gue mutusin balik, jam sudah di angka 8, malam ini MU maen kan? Kalo gak salah sih.. Pertandingan terakhir Sir Alex Ferguson di Old Trafford.

Akhirnya pakai jasa Ojek Payung.
Sebagai orang yang ramah *halaahh* Gue mulai membuka pembicaraan dengan anak ojek payung itu.
G (Gue) : hujannya gak kelar-kelar yaa?
OP (Ojek payung) : iya nih Om, deras banget. “Hhhmm, gue dipanggil Om? Karena masih pake Office wear kayaknya, okey dimaafkan”

G : udah dapat berapa Dek hari ini?
OP : baru Om nih yang pake payung saya,
G : loh, kok gitu??
OP : iya Om, ini baru dari rumah, tadi ngaji dulu di Masjid,
G : (wah, keren juga nih bocah, gak lupa ngaji) terus uangnya ditarok mana ntar? Basah dong yaa?
OP : iya Om, basah, tapi ntar dikibas-kibasin biar kering.
G : oohh, taro di atas TV ntar biar cepat kering… *sok baik, kasih saran*
OP : iya Om,
G : terus dapat berapa biasanya?
OP : biasanya sih 30 ribu om, itu biasanya.
G : wah, mudah2n hujannya makin deras yaa, biar makin besar dapatnya. (Gue liat si OP ini senyum2 menggigil, antara kesenangan gue doain atau memang kedinginan, susah bedakannya.)
Gue salamin dia uang agak lebih, biarin ajalah, rezeki dia ketemu gue sebagai pelanggan OP pertama.

Begitulah mereka, anak-anak penjual jasa Ojek Payung. Basah-basahan demi uang yang tak seberapa jika kita duduk makan di restoran.

Maka nikmat Tuhan yg mana lagi kah akan kamu dustakan?
*ngomong sama diri sendiri*

⌣_⌣
Sekian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s