Rasi Bintang itu Bernama Layang-layang

Mari kawan merapat kesini, aku punya cerita untuk kalian. Ini cerita soal aku dan kesukaan ku melihat rasi bintang di sebelah selatan langit. Ini semua dimulai dari kebiasaan yang dibangun Papaku waktu kami kecil, kebiasaan sholat Subuh berjamaah di Masjid.

Rumah kami saat itu berjarak lebih dari 500 meter dari Masjid, saat itu sholat subuh masih jam setengah 5, lebih atau kurang yaa jangan salahkan aku. Masih kecil saat itu.

Dan setiap kali kami berangkat ke Masjid, baik itu jalan atau pun naik kereta (motor, dalam bahasa sehari-hari Orang Sumut). Bertiga kami pergi, Aku, Papa dan Adikku.

Kadang ada suasana dramatis di sana, lolongan anjing selalu mengiringi Kami, Aku dan adikku yang saat itu masih kecil, lama kelamaan terbiasa mendengar lolongan itu, yang tadinya takut, yang tadinya gentar jika ada anjing tetangga yang mendekat menjadi berani, dan makin berani.

Maka akan kau lihat, Aku dan Adikku mengejar anjing-anjing yang mengganggu perjalanan pulang kami ke rumah, Papa hanya mengawasi kami, sambil tersenyum. Sementara pemilik anjing itu memandang kesal pada dua bocah yang terlalu berani membuat anjingnya terbirit-birit sambil mengeluarkan suara khasnya, “Kaing, kaing, kaing”. Kalau sudah begitu maka Aku dan Adikku akan tertawa dan terbahak-bahak menceritakan kisah itu ke Mama yang sedang masak sarapan di rumah.

Maka, sejak itulah perkenalan dengan Rasi Bintang Pari itu dimulai.

Rasi bintang ini termasuk yang paling terang setiap kali Kami selesai menunaikan sholat subuh di Masjid. Aku ingat kawan, Rasi bintang ini berada di sebelah kanan gerbang Masjid Al Jihad, maka Aku bisa paham, jika suatu saat nyasar dan tak tahu arah pulang, aku tahu harus menuju kemana, ya ke Selatan. Karena di sanalah arah rumah kami.
Ketika pelajaran mengenal rasi bintang aku peroleh di kegiatan Pramuka Penggalang, semakin ku kagumi kumpulan (Rasi) bintang ini kawan. Kemudian ku kenal juga rasi bintang orion, rasi bintang scorpion, dan banyak lagi rasi bintang yang lain. Kekaguman itu tetap tak berubah. Setiap kali pergi berkemah, aku lebih memilih tidur paling pinggir di tenda, memandangi langit yang selalu ku ingin cerah, untuk menemukan “layang-layang” itu. Dan memang dia selalu di sana, di langit sebelah selatan.

Kegemaran melihat langit berkurang seiring tuntutan sekolah, kuliah dan kini aku lupa, akan rasi bintang itu.

Hingga…

Malam ini, sepulang beli makan malam, tak sengaja ku pandangi langit, cerah. Rasi bintang bertaburan, bergantungan di langit. Oh, dia masih di sana. Rasi bintang itu masih di sana, di langit sebelah selatan itu. Setia menunggu untuk ku melihatnya lagi.

Perlahan aku terlempar kembali ke masa kecil, tersungut-sungut di pagi hari karena dipaksa Papa untuk ikut ke Masjid, padahal ngantuk masih juga meraja. Menggerutu ke Mama, karena malasnya Aku dan Adikku untuk pergi, tapi Mama hanya tersenyum dan berkata “ayo sana ikutin Papa kalian, nanti azan pulak”

Begitulah kisah ku, Adikku dan Papa ku, dan jika sang Rasi Bintang Crux, Pari, layang-layang atau apapun namanya itu kalian tanya, maka dia akan menjawab, “iya, aku melihat mereka, aku kadang tertawa melihat mereka mengejar anjing-anjing tetangga” hahhaaa.

Dan terlempar ke masa kecil itu membuatku rindu, Papaku, Mamaku, Adikku, Adikku, Adikku.

Senantiasa lindungi Kami semua Ya Allah, agar kami dapat selalu berkumpul berbagi cerita bahagia, sedih dan marah yang kami rasakan di luar rumah.

Dan suara jangkrik di depan kamar kos ini menarik ku kembali dari kenangan akan Rasi bintang Pari.

“Anakmu yang paling jauh ini akan segera pulang Ma, Pa” bisikku lirih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s