Perjalanan ke Kampung Naga dengan Bookpacker Indonesia (Bagian 2)

Oke, kita lanjutkan cerita yang sempat tertunda.  Sebelum semuanya lupa, ada baiknya segera ditulis, saran.  Heheee

Sumringah, itu yang gue rasakan waktu menjejakkan kaki di depan gerbang Kampung Naga, akhirnya setelah sekian lama, sampai juga di Kampung yang tersohor ini.  Tapi rasa sumringah itu ditahan dulu ahh, perut sudah menggerutu meminta catu, ehh meminta makanan.  Entah siapa yang lebih dulu mengajak makan akhirnya kami singgah di warung makan. Makanan yang dipesan adalah MIE INSTANT, kayaknya ini makanan wajib yaaa? Padahal bahan baku mie itu sampai sekarang masih impor, saran sih buat teman-teman, janganlah kecanduan makan mie, kalau nanti bahan baku mie yaitu Gandum tidak lagi boleh diimpor, kawan-kawan yang doyan mie instant pasti merana.

Loh, kenapa jadi ngomongin mie instant??

Hehhee…

Ok, back to topic

Rasa sumringah itu kembali saat makanan itu hadir dalam perut.  Masih di tangga paling atas saja kami sudah pengen photo-photo.  Dan ini adalah salah satu photo pertama.

Sebelum turun lembah

 Pose Narsis Dimulai

            Begitulah, lazimnya orang yang suka jalan alias traveller pasti ingin selalu diphoto, karena photo itu bisa jadi bukti otentik akan tempat-tempat yang didatanginya.  Ini pendapat pribadi yaaa, jangan dibully kalau gue salah, hehee.. Tangga yang dipakai untuk turun ke lembah Kampung Naga ini sangat terawat, bersih, rapi dan sepertinya masih baru.  Ada beberapa bagian dari anak tangga itu, perlahan aroma petai (baca : pete) mulai tercium, wah…aroma menusuk itu sebenarnya gue suka. Tapi kalau pete itu gak usah kita bahas di sini, ditulisan lain saja, sementara itu mari menikmati panorama Kampung Naga dari gambar di bawah ini. 

Hamparan Sawah

 Hamparan Sawah ini Menyambut Kami

             Kaki tetap melangkah menuruni tangga, candaan masih tetap mengalir seperti biasa melekatkan kami semua pada suatu kebersamaan.  Tapi mata seperti tidak puas memandangi asrinya kampung tradisional ini.   Manusiawi jika seseorang menyukai hamparan hijau padi.  Hamparan seolah karpet ini adalah warisan dari nenek moyang bangsa kita.  Ahhh, sekilas gue terlempar kepada kenangan masa kecil saat Almarhum Ompung (kakek : bahasa Batak ; Red) gue masih bertanam padi. Ada kenikmatan tiada tara saat mengusir burung-burung pipit dari hamparan sawah, kami menyebut kegiatan itu dengan istilah mamuro, walaupun capek, tapi tetap saja sebagai anak kecil pada saat itu gue menyukainya, berlarian di benteng sawah, menggoyang tali yang digantungin kaleng berisi batu untuk menakuti burung-burung kecil bergerombol itu.  Ada kepuasan saat panen padi, ada nasi yang pulen saat makan malam bersama di rumah Ompung kala itu.

            Kembali ke Kampung Naga.

            Hamparan padi sebelum memasuki kampung adalah suatu hal yang sangat menarik, apalagi di seberang jalan itu ada sungai yang cukup besar.  Adalah pemandangan yang barangkali hanya kita lihat lukisan atau poster tentang panorama alam.

Padi Organik di Kampung Naga

Padi di Kampung Naga

          Coba perhatikan gambar di atas? Adakah sesuatu yang menarik? Rasanya biasa saja kan? Tapi buat gue ada sesuatu yang cukup menarik disana.  Tidak ada keong mas disana.  Padi itu gue rasa bersih dari hama.  Pasti ada trik khusus dari para petani di Kampung Naga, dan akhirnya gue tahu kalau mereka menerapkan sistem pertanian organik, setelah berbincang dengan Pak Ijat, pemandu Kampung Naga yang bertugas hari itu.

            Sementara itu, teman-teman semakin mendekati pagar perbatasan Kampung Naga.  Oh iya, mari sekilas kita bahas profil Kampung Naga ini.

Kampung Naga adalah awalnya bernama Kampung Nagawir alias kampung yang berada di lembah atau dekat tebing.  Kampung ini memiliki luas lahan sebesar 1,5 hektar dan ada peraturan ketat di sini. Luas lahan desa tidak boleh lebih dari 1,5 hektar.  Setiap rumah tidak diperbolehkan memiliki kamar mandi.  Kamar mandi dan WC hanya diperbolehkan dibangun di luar pagar batas desa.  Oh iya, desa ini memiliki keunikan dimana tepian desa dipagar dengan pagar bambu.  Maka WC, dan kamar mandi masyarakat hanya diperbolehkan dibangun di luar pagar ini.

Rumah dan Pagar Batas Desa

 Perumahan dan Batas Desa Kampung Naga

            Ketika kami tanyakan ke Pak Ijat soal mengapa kamar mandi tidak diperbolehkan ditempatkan di rumah,  Pak Ijat punya jawaban lugas.  Rumah dan lingkungan di Kampung ini disusun berhadapan, tidak diperbolehkan saling membelakangi, ini bertujuan agar masyarakat saling akrab dengan tetangganya, WC dan kamar mandi dipasang di luar batas kampung untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah warga dan menjaga agar rumah warga tidak diserang nyamuk. Dengan demikian diharapkan rumah warga menjadi bersih terawat dan penyakit pun dapat dihindari.

            Perjalanan kami semakin memasuki kampung, Devi sang kepala rombongan sudah pergi entah kemana. Dia sedang mengikuti seorang anak bernama Ayu yang dikenal dia waktu pertama kali datang ke Kampung Naga.  Ternyata ayu menuntun kami ke tengah kampung, dimana ada Musholla dan Madrasah untuk anak-anak belajar mengaji dan lokasi diadakannya upacara hari besar agama Islam.

            Di musholla ini tersedia buku tamu, dan kami pun menulis nama Bookpacker Indonesia dan dengan tujuan wisata serta memberikan buku untuk anak-anak sekitar.  Berikut suasana pada saat itu di sekitar Musholla.

Musholla Kampung Naga

 Musholla Kampung Naga

            Kampung Naga sendiri memiliki 113 bangunan dalam pagar pembatas Desa.  110 rumah penduduk, 2 bangunan musholla dan madrasah serta 1 lagi rumah adat tempat menyimpan benda-benda yang disucikan kampung itu.  Sayangnya gue tidak mengambil photo dari rumah itu, mudah-mudahan teman lain punya gambarnya. 

IMG00821-20130310-1457 Bookpacker Indonesia dan Anak-anak Kampung Naga

 Setelah kami bertemu Pak Ijat selaku pemandu wisata yang bertugas hari itu, dan menyampaikan niat kami, maka beliau mengajak kami untuk menemui Bapak Danu, selaku ustadz di Kampung Naga.  Tidak berapa lama kami pun sampai di rumah Pak Danu.  Kebetulan beliau sedang ada di rumah sedang membersihkan kandang ayamnya.  Pak Danu mengajak kami masuk ke rumahnya, dan kami sampaikan tujuan Bookpacker Indonesia.  Dengan senang hati beliau menerima 20 buku untuk anak-anak Kampung Naga.

Mission Accomplished.

Bookpacker Indonesia bersama Pak Danu

Bookpacker Indonesia dan Bapak Danu

            Bapak Danu kemudian menegaskan bahwa buku-buku yang dibawa oleh Bookpacker Indonesia ini akan beliau simpan di perpustakaan Madrasah, agar anak-anak bebas membaca buku-buku itu.   Mudah-mudahan bermanfaat Pak.  Aaammmiiiinnn…

Ayooo semua ucapkan,….aaammmmiiiinnnn….

Hehheee..

            Kami pun bergegas dari rumah Pak Danu, untuk menikmati lagi Kampung Naga ini, banyak sudut kampung yang belum kami jelajahi.  Pak Ijat selaku pemandu menjelaskan berbagai hal yang kami tanya.  Jelas beliau adalah orang yang tepat untuk jadi pemandu, hapal semua soal Kampung Naga ini.

Kami kemudian berhenti di depan sudut sebuah rumah yang menjual berbagai jenis aksesoris, gue lihat cenderamata yang ada di situ umum, artinya di luar Kampung Naga pun kita masih dapat menemukan benda sejenis.  Pak Ijat menjelaskan kalau oleh-oleh khas dari Kampung Naga adalah berbagai kerajinan yang dibuat dari bambu.

IMG-20130310-00965

Bookpacker Indonesia dan Bapak Ijat

            Setelah berbincang cukup lama di depan sudut cenderamata itu, Pak Ijat kemudian mengajak kami ke rumah beliau.  Untuk istirahat dan mengetahui “jeroan” rumah Kampung Naga.

IMG00845-20130310-1659

Bookpacker Indonesia di Rumah Pak Ijat

            Secara umum, rumah penduduk Kampung Naga terdiri dari ruang tamu, dapur, lumbung padi dan kamar tidur.  Semuanya memiliki komposisi yang sama. Karena mereka membangun rumah itu secara gotong royong maka tidak ada perbedaan dalam desain rumah.  Gotong royong barangkali sudah sulit kita temukan di lingkungan perkotaan.  Mau lihat Pak Ijat lebih dekat? Berikut adalah photo beliau, bersama lampu tempel kebanggaannya. Hahahaaaaa.

IMG00836-20130310-1547

Pak Ijat

            Perbincangan dengan pak Ijat yang serba tahu ini akhirnya harus segera diselesaikan, beliau seperti tidak kehabisan cerita tentang Kampung Naga.  Mungkin teman-teman lain memiliki tulisan lengkap tentang berbagai hal yang diceritakan oleh Pak Ijat.  Gue berikan kesempatan. Hehhee.  Satu per satu kami mulai bersiap untuk sholat.  Pak Ijat menyediakan ruang tengahnya untuk kami menunaikan sholat Ashar.  Setelah gue dan Fachri selesai sholat, kami duduk di beranda depan rumah Pak Ijat, saat itu beliau sedang memberi susu kepada “anaknya” yang lain.  Yaitu seekor musang atau dia lebih suka menyebutnya luwak.

Terdengar familiar?

Luwak atau musang adalah hewan yang kemudian menjadi terkenal karena mampu “memproduksi” kopi berkualitas tinggi dan mahal.  Bagaimana caranya?

Baiklah, gue bagi sedikit infonya yaaa…..halach,,,gaya !

Luwak atau musang adalah binatang nokturnal, kebanyakan demikian.  Luwak dari jenis tertentu ternyata menyukai biji-bijian.  Dalam kasus ini kita bicara soal biji kopi yaa.  Akibat instingnya yang menyukai biji-bijian inilah luwak akhirnya mampu mendeteksi biji kopi yang benar-benar matang dari rumpun biji kopi yang ada di batang kopi tersebut. Kemudian biji itu digigit dan dikunyah, meski kebanyakan hasil dari pencernaan luwak itu justru masih menghasilkan biji kopi yang utuh.   Biji kopi hasil pencernaan luwak inilah yang awalnya diolah oleh beberapa petani kopi di Indonesia hingga kemudian dikenal sebagai kopi termahal di dunia, segelas kecil kopi ini saja sudah berharga Rp. 30 000.  *katanya sih*.

Dengan banyaknya pro kontra di masyarakat soal kehalalan kopi luwak ini, maka petani kemudian mengembangkan cara yang lebih “higienis” tidak semua biji kopi dalam 1 rumpun buah kopi itu menjadi makanan luwak, hanya beberapa biji, jika luwak menyukainya maka kopi itu kemudian diolah menjadi Kopi luwak.  Demikianlah kira-kira informasi soal kopi luwak ini.

IMG00841-20130310-1630

Jangan lihat Orangnya, Lihat yang di tangannya😀

Wuiiihhh….ini sudah lembar ke sembilan saudara-saudara.  Kita cukupkan sampai di sini dulu. Nantikan tulisan terakhir, “The Crew” gue mau membahas rombongan bookpacker Indonesia yang ikut waktu itu, satu per satu.  Tentunya gue gak ikut jadi objek,,,,hahaha, ini tulisan gue kan?😛

 

Bersambung.

“The Crew”

Nantikan !

 

Sekian.

See yaaa.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s