“Gue juga jadi Korban”

Pagi tadi,
Setelah sarapan bertiga dengan Ridho dan Pipit, gue langsung bersiap menuju kampus, kebetulan ada seorang teman yang seminar skripsi hari ini, congratulations kawan.
Ridho dan Pipit sudah berangkat berangkat duluan, dan gue masih harus ke Babe tukang jahit, karena ada tas yang harus gue benerin reseletingnya, setelah gue mampir kesana, maka perjalanan ini dimulai.

Hallaaaahhhh…

Begitu ada angkot trayek Kampus Dalam – Bubulak gue langsung naik, kebetulan angkot itu tadi melewati pool bis TransPakuan, gue yang niatnya memang pengen naik angkot 03 untuk ke kampus akhirnya melewatkan kesempatan itu, dan itu akan gue sesali beberapa saat kemudian.

Setibanya di Laladon…

Supir angkot dan gue mulai terlibat dialog singkat, “mas, mau kemana nih? ” Supir angkot itu bertanya dengan cukup ramah. Terus gue jawab dengan tidak kalah ramahnya, “oh, saya mau ke Baranangsiang Pak” Supir angkot itu terdiam sejenak, gue mulai bisa membaca ada yang tidak beres disana, tak berapa lama dia berkata, “oalah Mas, kayaknya itu angkot 03 dan 02 lagi mogok deh, karena ada angkutan bis baru itu”

Gue kemudian paham, kenapa daritadi angkot 03 dan 02 ga ada memenuhi pertigaan yang menuju laladon, pantas saja jalanan sepi. Hhhmmmm….

Akhirnya dengan menumpang angkutan kota nomor 32 gue balik lagi ke Terminal Bubulak, dan memutuskan naik Transpakuan ke Baranangsiang, sambil berharap gue sampai di kampus sebelum jam 12, kasihan teman gue yang seminar, karena audiensenya harus berjumlah minimal 10 orang.

Dan inilah kita, setiap ada peraturan baru, setiap ada kebijakan baru, setiap ada terobosan baru, setiap ada angkutan umum jenis baru kita selalu kurang langkah, selalu kurang sosialisasi, akibatnya…..konsumen menjadi korban.

Terobosan dari Pemprov DKI dan Pemprov Jawa Barat dengan menyediakan APTB jurusan Bubulak – Rawamangun itu menarik. Karena bus ini kemudian akan membawa penumpang menuju Jakarta khususnya Jakarta Timur tanpa harus melalui terminal Baranangsiang, atau melalui Stasiun Kereta Api Bogor. Penumpang kemudian diberikan fasilitas yang lain karena bus itu terintegrasi dengan TransJakarta.

Inilah yang akhirnya memicu para supir angkot 03 dan 02 untuk melakukan mogok, bus APTB itu sendiri sebenarnya baru beroperasi sekitar tanggal 10 Maret yang lalu, jika kemudian ada yang tidak puas pasti itu salah satu penyebabnya adalah kurangnya sosialisasi dari pihak terkait, terutama Pemerintah Kota Bogor.

Ratusan orang berdiri di depan Terminal Laladon pagi tadi waktu gue lewat sana, kalau mogok massal ini berlanjut, apakah Supir angkot yang mogok itu bisa mendapatkan penghasilan lain?

Rasanya sulit.

Angkutan Kota di Bogor telah menjadi sumber dari hajat hidup orang banyak, jika kemudian angkot ini berkurang, ada sisi positif, karena setidaknya jumlah angkot yang ribuan itu tidak lagi memadati jalanan Bogor yang memang sudah macet. Tapi, kemana mereka akan mencari sumber penghasilan lain?

┐(˘˘,)┌.entahlaahh..

Jelas gue juga korban dari mogok massal pagi tadi.

Sekian.
See yaaa….

⌣_⌣


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s