Perjalanan ke Kampung Naga dengan Bookpacker Indonesia (Bagian 1)

Holaaa, Assalamualaikum Wr.Wb

Ini adalah catatan perjalanan ke Bandung, dengan tujuan utama adalah Kampung Naga.  Sebenarnya tulisan ini adalah lanjutan dari https://batansh21blog.wordpress.com/2013/03/09/rangkaian-perjalanan-part-1-bandung-bagian-1/ di blog gue batansh21blog.wordpress.com tapi atas usul dari Devi (@devianisanasrah) sebagai ketua rombongan maka catatan perjalanan ini disepakati akan dishare melalui blog Bookpacker Indonesia.

Baiklah, kita mulai saja, openingnya kelamaan nih.. =_+

Gue memang dari beberapa bulan yang lalu pengen banget ke Bandung, dan itu selalu gue sampein ke Eris (@rieszdhee), ada rasa bosan yang menghinggapi diri sendiri ketika harus menghadapi rutinitas di Bogor, yang memang itu-itu saja.  Gue pikir, Bandung adalah tempat terdekat untuk melarikan diri dari penatnya kemacetan Bogor, dan dari sesekali merasakan gerahnya hidup kaum urban Jakarta.

Dan, keinginan gue untuk travelling ke Bandung menemukan jawabannya ketika Eris “nawarin” untuk ikut ambil bagian dalam perjalanan ke Kampung Naga.  Langsung gue teringat artikel tentang Kampung Naga di majalah Kartininya Mama di rumah, yang pernah gue baca waktu masih SD dulu.  Woowwww…gue akan segera sampai disana.  Begitulah pikiran yang menyerang gue.

Kampung Naga, seingat gue waktu baca artikel itu adalah kampung yang masih mempertahankan ajaran dan adat istiadat dari leluhurnya, waktu itu gambar di artikel itu adalah photo yang diambil dari atas, artinya atap-atap ijuk dan rumah yang tersusun rapi adalah objek yang ditampilkan di photo itu, dan ingatan itulah yang meresap ke dalam memori gue sampai sekarang.

Suasana Kampung Naga

 Suasana Kampung Naga saat ini

Bandung menjadi tempat tujuan awal untuk mencapai Kampung Naga, karena gue akan bermalam di rumah Eris, sahabat gue yang satu ini adalah orang yang selalu menjadi tempat pelarian kami para teman-temannya sejak SMA, oh iya, kami berteman sejak SMA, Eris dulu sempat SMA di Kota kelahiran gue, Pematang Siantar, orang yang “ngenalin” gue ke Eris adalah Wahyu, yang memang adalah teman satu sekolah Eris, gue di SMA 3, Eris dan Wahyu di SMA 1 Pematang Siantar.  Kenapa gue sebut tempat pelarian, karena rumah dia selalu kami jadikan tempat berkunjung setiap kali ada kesempatan, makanannya banyak…hahaa..

Stasiun Hall Bandung

 Wellcome to Bandung

Sore hari sebelum ke rumahnya, kami sempatkan membeli buku di toko buku “entah di jalan apa namanya, dan gue juga lupa nama tokonya” yang pasti jalan menuju ke toko buku itu gue ingat melewati Gedung Sate yang tak ada satenya itu.  Hehhee…

 Minggu, 10 Maret 2013

Gue sedikit amnesia dengan rute perjalanan dari rumah Eris di Kopo menuju checkpoint  teman-teman Bookpacker Indonesia ini, gue lupa, yang jelas kami ketemu di depan SB Mart, setelah gue pikir-pikir, SB Mart, Alfamart dan Indomaret itu mungkin bersaudara, dan mereka punya kakak namanya Alfamidi,  punya Bapak dan Ibu namanya Giant dan Hypermart, serta berteman dengan Seven Eleven. (oke, kalimat yang diItalic diskip ja, lewati…itu ga penting). (=_+)

Maka, setelah semua peserta berkumpul, kami segera menyiapkan buku-buku yang akan disumbangkan ke anak-anak di Kampung Naga, inilah misi mulia dari komunitas Bookpacker Indonesia, tidak sekedar jalan-jalan (travelling) menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat tertentu guna memuaskan hasrat untuk mengetahui budaya dan suasana daerah yang dikunjungi, tapi juga membagikan buku-buku yang pasti berguna untuk anak-anak di lokasi yang dikunjungi tersebut.  Kita tahu, anak-anak di pedesaan, atau secara spesifik lokasi wisata, acapkali tidak dapat membaca buku, bukan karena mereka tidak mau atau tidak bisa membaca, tapi mereka tidak menemukan buku yang bisa dibaca, dan itulah masalah yang ingin sedikit dibantu oleh teman-teman dari Bookpacker Indonesia.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kami naik bus ukuran ¾ dari depan SB Mart itu, gue lupa apa nama bus tersebut, Sonny Putra atau Surya Putra yaaa? Ada yang bisa bantu gue? Hehhee

Tapi..setelah berdiri beberapa menit, oh iya, kami berenam naik ke bus dengan penumpang yang padat, akhirnya kami berdiri, padat-padatan, 3 orang di pintu depan, 3 orang di pintu belakang, belum sempat gue adaptasi dengan suasana bus yang bagi gue cukup aneh itu, ehhh dari belakang ada yang teriak, kiri-kiri..!!? dan ternyata itu teriakan si Devi.  Mereka yang berdiri di belakang kemudian turun, mau gak mau kami yang berdiri di  pintu depan pun segera turun, selidik punya selidik ternyata ongkos yang ditetapkan kernet bus itu lebih mahal dari biasanya, dan Devi sang kepala rombongan yang kemudian gue panggil Miss Upil tidak terima, akhirnya kami semua turun. Gue pandangin bus yang semakin menjauh, jauh dalam hati gue berbisik, sampai jumpa lagi…mungkin nanti kita ketemu lagi yaa…dan memang itulah yang terjadi, sore hari ketika kami akan pulang ke Bandung. 

Bookpacker indonesia

Checkpoint SB Mart

Rasa suntuk perlahan menyergap kami, gue sebagai newbie di antara kami berenam hanya bisa diam, sambil berdiri pura-pura asyik kutak katik hp gue, baca twitter, dan ngerjain yang lain, sampai Culie‏ (@liechu07) kemudian menyapa gue untuk meminjam headset, setelah headset gue terpasang dengan manis di kupingnya, gue kembali sok sibuk dengan hp, tidak cukup tertarik untuk “nimbrung”  obrolan teman-teman yang lain.

Setengah jam kemudian, tidak ada tanda-tanda bis mana yang akan kami naiki, sempat ngobrol juga dengan Eris, gue tahu dia sengaja ngajak ngobrol agar gue merasa tidak terlalu sepi, dari dia gue tahu kami akan naik bis Primajasa, atau bis apa saja yang akan membawa kami ke Kota Tasikmalaya, gue tidak merasa heran dengan itu, karena Kampung Naga itu setahu gue memang masih wilayah Tasikmalaya, namun ternyata ada yang salah di situ, itupun setelah kami semua dalam perjalanan pulang dari Kampung Naga menuju Bandung.

Satu jam kemudian, dan gue masih tidak berminat untuk ikut mencampuri obrolan mereka, sebagai orang baru dan tidak tahu rute, gue memilih abstain dan diam mengikuti keputusan teman-teman yang lain.  Tidak berapa lama kemudian Fahri (@fachrifaul) “yang mengaku sebagai anggota termuda di perjalanan kali ini” bergerak melambaikan tangan ke bis Primajasa jurusan Tasik-Bekasi, dan kami akhirnya naik bis itu.  Dan gue kembali antusias melanjutkan perjalanan ini.

Novel khususnya atau buku, merupakan cara gue untuk membunuh waktu selama dalam perjalanan, dan memang rupanya teman-teman lain yang tidak membaca buku atau tidak melakukan aktivitas lain di bus itu bosan! Karena kami naik bus dalam waktu yang menurut gue lama, 3 jam.  Waktu tempuh yang sangat lama dan jauh untuk bus yang hanya menarik ongkos Rp. 5000 dari para penumpangnya.

            Panas, gerah, jalanan berliku, itu akhirnya meminta korban, teman-teman yang terlelap tidur pasti tidak mendengar suara hhhuuuwwweeekk dari bangku belakang, suara muntah dari penumpang belakang itu cukup keras terdengar, dan gue hanya tersenyum, karena gue bukan tipe penumpang yang gampang mabuk perjalanan.  *sombong* hehhe.

            Kami naik bis jam 10 dan baru sampai di Tasikmalaya jam 1 siang, hampir setengah 2 menurut jam tangan gue, dan anehnya, Devi, Eris, Billa (@nabilla_irfani) tampak sedikit bingung, wah gue tahu, pasti ada sedikit ketidakberesan disini, tapi gue lagi-lagi memilih untuk diam.  Kami kemudian naik mobil yang disebut angkot, mobil zebra tahun 90 an ini sudah sangat ringkih, cat terkelupas dimana-mana, penumpang disusun sepadat mungkin, sampai-sampai gue hanya bisa duduk dengan ¼ bagian, sedangkan Fachri bisa duduk ½ bagian. Pegal…!

            Tapi itulah mungkin nikmatnya travelling, kalau gak kayak gitu pasti tidak kita temukan kesenangannya.

Sejak itu gue mulai bercanda dengan teman-teman yang lain, bagaimanapun mereka adalah satu tim gue dalam perjalanan ini.  Setibanya di Singaparna setengah jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Naga dengan angkot yang lebih layak.  Banyak lelucon di dalam angkot ini yang semakin membuat kami akrab, ada Eris yang selalu menjadi korban bullyan gue dan ternyata juga adalah korban bully dari Devi, ada Billa yang dengan polosnya percaya kalau gue bisa mengatur naik turunnya hujan dengan hanya menunjuk ke langit, yang diterjemahkan Eris sebagai “sms” gue ke Malaikat Mikail, Billa juga kemudian percaya kalau dia ngeluarin payung hijaunya maka hujan pun akan berhenti, ada Fachri yang merasa tersaingi oleh lele yang dibawa oleh seorang bapak, lele dan Fachri saingan dalam hal kumis…hahhaaa.

Akhirnya kami tiba di gerbang Kampung Naga.

IMG00852-20130310-1730

Penunjuk Arah Kampung Naga

 

Bersambung Ke RP Part 2 Kampung Naga. 

Sekian…

See yaaa (+_=)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s