“Keluarlah, Jangan Terjebak Paradigma Sendiri”

Paradigma….

Paradigma menurut Wikipedia (02-03-2013), dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual. Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin di tahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik)

Pengertiannya sih sudut pandang, atau pemahaman seseorang tentang suatu bidang atau masalah. Nah, sudut pandang ini yang seringkali membuat seseorang menjadi berpikir sempit tentang sesuatu hal atau masalah, lantas salahkah? Gue ga bisa bilang itu salah, terserah pemahaman masing – masing ja sih. Orang berhak punya pendapat masing-masing, tapi apa itu dapat dibenarkan sementara dia sendiri belum paham soal masalah itu?

Nah itu dia masalahnya.

Orang seringkali terjebak dengan paradigma dia sendiri soal suatu masalah, dan itu membuat dia menjadi picik, sempit pemikirannya, buat gue sih, selama itu ga menyinggung gue, ya ga masalah, tapi kalau itu menyinggung gue? Nah itu harus didebat!! Harus.

Tujuannya? Agar dia paham, setidaknya tidak lagi melecehkan sesuatu yg menurut dia salah. Itu ja sih, ga lebih. Buat apa kita maksain pendapat ke orang lain. Ada garis bernama Hak Asasi Manusia yang membatasi itu.

Maka kemudian, adakah cara agar komentar pribadi itu tidak melukai Hak Asasi Orang lain? Ada.

Pelajari dulu apa masalahnya, bagaimana sudut pandang orang tersebut, lantas setelah kita mengetahui itu, bolehlah berkomentar seperlunya, jangan menilai itu baik atau buruk sementara kita sendiri tidak memahami ilmu yang mengatur itu.

Contoh kecilnya, apakah pantas seseorang menghakimi orang yang kerja di perbankan itu dengan sebutan “makan uang haram” karena bank menganut sistem bunga atau riba yang memang kita tahu itu haram dalam hukum islam, sementara orang tersebut sholatnya saja masih bolong-bolong, Jumatan masih sebulan sekali??

Pepatah lama berkata : “Mulut mu harimau mu”
Agaknya pepatah lama itu masih tetap relevan kita pakai di masa kini.

So, pelajari dulu ilmunya, ubah paradigma soal sesuatu hal yang ingin anda komentari karena menurut anda itu buruk, keluarlah….jangan terjebak paradigma sendiri. Jika tidak ingin disebut picik.

Sekian.
See yaa…
⌣_⌣


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s