“Beginilah Angkutan Massal di Ibukota”

Ini gue tulis di dalam bus kelas ekonomi dari Kampung Rambutan menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Alkisah hari ini gue baru saja dari Cikupa, Tangerang, setelah dari rumah sepupu yang baru saja pindah dari Medan ke Perumahan Citra Raya, Cikupa, Tangerang.

Awalnya gue kira perjalanan ini akan sedikit membosankan, karena ternyata dari Bogor ke Cikupa itu harus “ngeteng” dari Bogor ke terminal Kampung Rambutan, lalu dilanjutkan naik bus yang ke Cikupa. Ternyata tidak juga, sedikit membosankan meskipun berusaha dinikmati. Sudah lama gue tidak merasakan naik bus yang rutenya ribet seperti ini. Hahahhh.

Berangkatnya sih enak, karena bisa naik bus Ekonomi AC, kemudian bisa dapat duduk yang cukup nyaman. Yang enggak enaknya sih, banyaknya pengamen dan pedagang asongan yang naik turun bus seenaknya, belum lagi omongan bernada intimidasi dari pengamen-pengamen itu, gue jadi berpikir, ini sebenarnya preman yang bergaya pengamen, atau pengamen yang sok-sokan jadi preman.

Nah, gue mau cerita gimana ribetnya pulang dari sana, setelah sholat ashar di Masjid dekat rumah kakak itu, gue pun langsung diantar ke simpang perumahan, 1 bus yang menuju Kp. Rambutan baru saja lewat, dan ga mungkin terkejar, so….gue harus menunggu. Ini sudah sore, dan gue masih harus melewati Terminal Kp. Rambutan yang katanya “seram” itu.

Kayak reaksi orang yang menunggu bus nan tak kunjung datang, begitulah yang terjadi dengan gue tadi. 10 menit masih anteng, 15 menit masih lumayan santai, 20 menit sudah mulai krasak krusuk, teng, jam setengah 5 dan busnya belum juga lewat. Hampir gue mengambil keputusan untuk naik Feeder bus perumahan itu saja, ke WTC Mangga dua atau ke Gambir, tapi pilihan itu ga gue ambil, terlalu jauh untuk mutar ke Bogornya.

Akhirnya setelah 40 menit menunggu bus Prima Jasa yang ditunggu pun tiba, cerah ceria wajah gue pas naik ke atas, namun langsung berubah padam, busnya penuh!
Aahhh, gue paling malas berdiri, apalagi di bus!
Akhirnya gue milih duduk di tangga pintu depan, membelakangi supir, segitu penuhnya bus, masih ja kernetnya diizinkan untuk menaikkan penumpang oleh supir, dan hingga sampai pintu tol Kebun Jeruk penumpang masih saja ada yang naik, itulah rusaknya angkutan massal ibukota ini, mungkin juga di daerah lain, penumpang yang notabene adalah pembeli jasa mereka justru diperlakukan dengan tidak manusiawi, hampir di semua lini transportasi, untungnya tidak di transportasi udara.

Sering kita lihat betapa padatnya commuter line Bogor-Jakarta saban hari kerja atau pada saat jam pulang kantor, penumpang dibiarkan berdiri, dempet-dempetan, yang tubuhnya pendek siap-siaplah merasakan udara busuk dari ketiak orang yang kebetulan berdiri di sebelahnya dan lebih tinggi. Cobalah sesekali kalau tidak percaya, pernah gue pergi sama Pipit rencananya mau ke Mangga Dua, naik Ekonomi AC, waktu itu belum pakai istilah Commuter Line. Nah, teman gue ini sedikit punya masalah dengan pernapasan, awalnya gue rasa dia ga ada masalah dengan padatnya penumpang, tapi kok lama kelamaan mukanya pucat, merah padam, gue tanya, “kenapa Pit?” Dia hanya diam dengan menggelengkan kepala, waduh, gawat ni orang kalau sampai pingsan bisa berabe urusannya. Waktu itu kami sudah mendekati stasiun Lenteng Agung, boleh dibilang baru 1/4 perjalanan, langsung gue tarik dia keluar, terobos padatnya penumpang itu, banyak orang keinjak kakinya, gue biarin, daripada teman gue pingsan??

Begitu kami sukses keluar dari kereta itu, pipit langsung selonjoran di bangku yang ada di Peron Stasiun…gue tawarin dia minum, dan dia langsung mau. Setelah gue beliin air mineral dan diminum olehnya perlahan pucatnya menghilang, mulai segar kembali. Wuihh….telat dikit gawat ni anak orang.

Itulah sedikit potret buram angkutan massal ibukota. Dan bus itu melaju dengan kecepatan sedang mengantarkan gue dan penumpang lainnya ke Kampung Rambutan. Setibanya di terminal, gue bergegas mencari angkutan ke Bogor, kosong.

Tak ada 1 pun bus ke Bogor, hari sudah menjelang maghrib, gue terduduk di dekat pedagang kopi, sedikitpun tidak tertarik mencicipi kopi buatannya. Ga berapa lama bus Bogor datang, dan itu adalah bus ekonomi paling bobrok yang gue lihat.

Pasrah….

Pikiran gue langsung melayang, kalau nanti banyak pengamen dan pedagang asongan naik, maka lengkaplah sudah bobroknya angkutan massal ini. Bus ini gue rasa sudah beroperasi sejak tahun 80an, dan herannya masih saja diberikan izin untuk beroperasi.

Untungnya Tol Jagorawi bersahabat malam ini, jalanan lancar jaya, penumpang sedikit, pengamen hanya 1 dan itu pun mungkin sudah turun entah dimana. Biarin sajalah.

Dan gue masih duduk di bangku pas tepi jendela. Menikmati udara malam yang kali ini terasa lebih sejuk.

Entah kenapa.

Sekian.
See yaaa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s