“Tetap Sehat Ya Oppung Boru…”

18 feb 2013, di atas Commuter Line Tanah Abang – Bogor.

Sebenarnya ini bukanlah jam pulang kantor, biasanya orang-orang kantoran pasti akan memadati stasiun Sudirman jam 16.00, dan tepat jam 14.15 gue sudah di stasiun, setelah berjalan sekitar 15 menit dari kantor gue di Intiland Tower, setidaknya masih bisa berharap kereta akan lebih lega.

Ketika akhirnya kereta tiba, ada rasa kecewa, ternyata harapan bukan kenyataan, kereta tetap ramai, ini bukan awal bulan, barangkali pedagang dari Tanah Abang pulang lebih cepat atau apa penyebabnya, yang jelas gue berdiri.

Kereta ini berjalan dengan kecepatan sedang, hingga tiba di Manggarai naiklah dua orang lelaki berpakaian layaknya wanita, owwh ternyata waria. Ckckck, hidup adalah pilihan tapi kalau memilih hidup dengan identitas yang tidak jelas seperti itu mungkin bukan pilihan, setidaknya bagi gue.

Di stasiun Pasar Minggu naiklah dua orang ibu-ibu, yang 1 gue kira sudah berumur 70 tahun lebih, ibu 1 nya lagi mungkin sekitar 40 an, begitu mereka naik, si nenek ini berdiri di depan gue, pegangan di tiang besi yg ada di sebelah gue berdiri, sekilas ada rasa haru, nenek itu mirip banget dari segi penampilan dengan Oppung Boru gue. (Oppung Boru adalah panggilan buat nenek bagi suku Batak). Oppung gue ini adalah orang tua dari Mama, usianya kini 73 tahun, pensiunan kepala SD.

Sebagai cucu pertama dari beliau, nama gue sering dijadikan pengganti namanya, ada kesepakatan tidak tertulis di antara beliau dan suaminya (Oppung Dole, almarhum) kalau sebutan mereka adalah Oppung Andi, dan Oppung Zein, Andi itu nama kecil gue, Zein itu nama adik gue, tapi tetangga di rumah Oppung sering memanggil beliau berdua dengan sebutan Oppung Andi.

Sebagai Kepala SD, dan jg sebagai Guru, Oppung Boru gue ini berperan sangat besar dalam menjadikan dunia buku, utamanya membaca dan kini menulis sebagai hobby gue, sejak umur 5 tahun gue udah lancar membaca, dan buku-buku yang pertama kali gue baca adalah buku-buku cerita anak-anak yang biasanya ada di perpustakaan SD, buku-buku itu dibawa dari SDnya Beliau karena pada saat itu sekolahnya sedang direnovasi, dan banyak buku-buku bacaan baik baru maupun lama dibawa ke rumah Oppung gue.

Kini, beliau sudah berusia 73 tahun, usia yang bahkan melampaui usia Nabi SAW, beliau sudah menunaikan ibadah haji, beliau kini hidup sendiri, ga mau merepotkan anak-anaknya dengan tinggal di rumah anak-anak. Akhirnya Mama gue dan adik2nya sepakat untuk membolehkan beliau tetap tinggal disana, agar Oppung gue tetap sehat, dan punya kesibukan di sawah dan ladang beliau.

Dan, nenek yang tadi naik ke commuter line itu ternyata memang dari Sidempuan, ibu kota kabupaten Tapanuli Selatan, dan mempunyai nama belakang, alias Marga, sebenarnya penyebutannya Boru untuk wanita, yaitu Boru Siregar, sama dengan Oppung Boru gue.

Tetap sehat yaa Pung, disini Pahoppu Panggoaran mu sedang membangun kapal untuk berlayarnya.
Tetap sehat ya Pung, agar tahun depan, atau tahun depannya lagi kita bisa sama-sama Umroh ke Tanah Suci seperti harapan Oppung.

Labbaikallahumma labbaik.

*tak terasa air mata ini menetes,

Sekian….
See yaa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s