Salam Rindu Opung, Salam Hormat Pak Jenderal..

Usianya kini 72 tahun…usia yang bahkan Opung gue saja tidak bisa mencapainya, karena sudah kalah lebih dulu dari rokok. Ada kemiripan kedua orang tua ini kalo gue liat. Kemiripannya ada di cara mereka berkomunikasi, keduanya selalu mampu memposisikan diri dengan lawan bicaranya, ketika bercerita dengan kami yang notabene mahasiswa, dia pasti memposisikan diri sebagai seorang Dosen senior yang selalu mampu memberikan solusi dari semua masalah yang dihadapi mahasiswanya, Opung gue juga begitu, wawasannya yang luas membuat aku selalu mampu bercerita apapun kepadanya. Mulai dari cerita-cerita di kampus, kondisi politik terkini, bahkan kondisi pertanian yang menjadi pekerjaannya selama puluhan tahun.

Ya, Opung gue adalah seorang petani, dulunya sempat bekerja di sebuah rumah sakit tentara di Kota Siantar, tapi beliau keluar, dan lebih memilih mengurus tanah peninggalan Ayahnya.

Sementara, Bapak Jenderal ini adalah seorang purnawirawan yang kalau gue ga salah dia terakhir memanggul 2 bintang di pundaknya, sebuah penghargaan yang cukup pantas bagi orang yang memulai karir militernya dari akademi militer bagian tehnik di Bandung.
Menurut cerita beliau, karir militer dimulainya sebagai Taruna pada tahun 1961 hingga tahun 1964, pada masa itu gue rasa Akademi Militer belum lagi dipusatkan di Magelang (nanti dibaca lagi sejarahnya). Karena beliau memiliki spesifikasi di bidang teknik, maka di ITB dan Dosen-dosennya merupakan pengajar mereka. Sempat gue tanya ke beliau, jadi masa pemberontakan G30SPKI itu Bapak sudah tugas dimana? Akhirnya beliau bercerita, awal tahun 1965 beliau sudah dapat penempatan di Kalimantan, tepatnya di perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Setelah itu, beliau ditempatkan di hampir seluruh Indonesia, hanya Padang dan Manado kota di Indonesia yang belum beliau datangi hingga pensiun. Artinya, Medan pernah beliau singgahi. Yap, 3 tahun beliau bertugas di Sumatera Utara, ada pengalaman unik yang beliau rasakan, pada tahun 1975 atau setelahnya, Anggota beliau ada yang gugur di Timor Timur (pada saat itu TimTim baru saja berintegrasi ke Indonesia), banyak tentara yang ditugaskan untuk memulihkan keamanan disana, kalau belum paham atau belum pernah dengar cerita soal Timor Timur, coba baca sejarah via internet, atau baca bukunya Jenderal Kiky Syahnakri, yang mengawal TimTim dari mulai integrasi hingga lepas pasca referendum, di Kaskus juga ada tu thread khususnya, tapi yang di Kaskus versi gelapnya, banyak kekejaman yang tak terungkap bahkan oleh media.

Nah, pada saat bertugas di Sumut, Pak Jenderal ini ditugaskan oleh Komandannya ke suatu kampung di pedalaman Tarutung, gue duga kampung itu ada disekitar Tarutung, Balige atau Siborong-borong. Dan pasti suasananya sama sampai sekarang, bagi yang pernah jalan darat dari Medan hingga Sidempuan pasti pernah liat suatu kampung yang dikelilingi oleh tanaman bambu, mitosnya, rumpun bambu yang ditanam sekeliling kampung itu bisa menangkal tulah, santet bahkan peluru dari tentara penjajah.

Nah, pasti Pak Jenderal ini ditugaskan ke Kampung dengan deskripsi sepeti itu, beliau bercerita, saat mengantar jenazah yang gugur ini, mereka harus berjalan 2 kilometer dari jalan raya, memanggul keranda berisi peti mayat. Ketika orang kampung mulai mengetahui siapa yang berada di dalam peti itu, mulailah mereka berjalan, berduyun-duyun hingga ke rumah duka, yang Bapak itu salut, semakin lama, semakin banyak orang yang mengikuti di belakang rombongan, hingga akhirnya rombongan sampai di rumah duka, uniknya semua bereaksi sama, menangis histeris, menjerit-jerit memanggil nama korban..itulah agaknya yang membuat orang kampung jadi tahu.
Setibanya di rumah duka, mulailah keluarga korban menangis histeris, apalagi setelah Bapak ini menghaturkan kata-kata turut berduka cita, semakin lama semakin banyak orang yang berkumpul.
Beberapa jam kemudian, setelah tangisan reda, ada seseorang yang meminta rokok ke Bapak ini, beliau kemudian memberikan orang itu rokok, namun dari kejauhan ada seseorang yang datang, dengan mimik sedih, pada saat itu suasana sedang hening, karena semuanya lelah untuk nangis lagi, dan ketika orang yang bermimik sedih tadi menaiki tangga rumah (rumah panggung) dia kemudian segera meninju dinding rumah itu dan berteriak histeris, menangisi mayat itu, dan sesegera itu kemudian semuanya kembali menangis. Dan hal itu berulang-ulang hingga 5 kali.

Pengalaman itu membekas di benak Pak Jenderal ini hingga sekarang.

Ada sesuatu yang perlu kita pahami, sebuah kampung dengan dikelilingi rimbunan bambu seperti itu adalah kampung yang umumnya diisi oleh orang-orang yang berasal dari marga yang sama, jika ada marga lain, umumnya karena disebabkan oleh hubungan pernikahan, dan tentu masih memiliki hubungan keluarga dengan marga yang dominan. Itulah kenapa kedatangan Pak Jenderal dan rombongan itu kemudian menjadi acara berduka untuk satu kampung.

Tiga tahun di Medan, beliau mendapatkan pengalaman berharga dengan banyak cerita positifnya kepada kami, malam itu. Beliau juga bercerita banyak soal pengalamannya di daerah kalimantan, timtim dan daerah lainnya.

Tapi, dari sekian banyak ceritanya, ada 1 pernyataannya yang membuat gue terhenyak… “Bahwa dari sekian banyak daerah yang dia datangi, ada satu kesamaan yang beliau dapati, bahwa orang asli di daerah tersebut, umumnya banyak memiliki kebiasaan buruk, yang membuat mereka menjadi malas-malasan dan akhirnya kalah dengan masyarakat perantau”

Kebiasaan buruk itu umumnya adalah Mabuk dan minum-minuman keras, atau betah berlama-lama di warung kopi, duduk, main catur dan menghabiskan waktu.

Dan itu juga gue liat di daerah-daerah yang pernah gue datangi.

Bisakah itu dirubah?
Bisa…
Jika penduduk asli itu sadar, dan tidak menjadikan itu sebagai alasan pemantik konflik horizontal.

Nah, yang membuat gue jadi teringat Almarhum Opung adalah Pak Jenderal ini perawakannya mirip dengan Opung, penampilan rapi, rokok selalu tersedia di tangan, badan kurus, dan kuat minum kopi hitam….yaa…kalau pernah liat photo atau poster Chairil Anwar dengan rokok di celah jarinya, begitu juga penampilan Opung dan juga penampilan Pak Jenderal ini.

Semoga Opung mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT… Al Fatihah..

Salam Rindu Opung, salam hormat Pak Jenderal, semoga anda sehat selalu.

Dan Bapak Jenderal ini adalah Bapak Kost gue.

Sekian.
See yaa..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s