Fenomena (Part 2)

Tahun 2012 ini sudah berapa puluh artis luar negeri yang datang ke Indonesia? Adakah anda semua menghitungnya? Jangan tanya gw, karena gw emang gak tertarik menghitungnya.

Terakhir dan yang paling membuat heboh adalah kedatangan Shahrukh Khan (bener ga nulisnya kayak gitu?) dengan harga tiket dari Rp. 500.000 s/d Rp. 3.500.000 semua tiket terjual alias sold out.  Total tiket terjual adalah 7500 tempat duduk.  Gw sendiri gak tahu berapa banyak alokasi masing-masing kelas tempat duduk, yang pasti kalau semua tiket disamaratakan Rp. 500.000 maka itu semua akan senilai Rp. 3.750.000.000 singkatnya itu adalah Rp. 3,7 M.

Wooww nilai yang besar bagi sebuah pertunjukan dengan jatah tampil paling lama 3 jam dan hanya dalam satu malam.  Kira-kira masing-masing artis akan dibayar berapa yaa? aahh itu bukan urusan kita bukan? Fenomena kedatangan artis yang seolah membanjiri Indonesia (terutama Jakarta) ini merupakan promosi yang tepat untuk nama baik Indonesia di mata publik Internasional.  Tapi harus kita pahami juga bahwa Indonesia ini telah dijadikan (atau malah sudah menjadi) pasar yang sangat besar bagi seluruh produsen luar negeri, mulai dari Gadget, produk kecantikan sampai artis berlomba-lomba mempromosikan diri di Indonesia, dan selalu diterima dengan baik oleh publik domestik.

Harus diakui bahwa kedatangan seorang artis besar seperti SRK ini akan memberi citra positif bagi Indonesia, setelah kita melewati tahun-tahun penuh goncangan teror, mudah-mudahan dengan ini semua klub sekelas Manchester United akan mampir ke Indonesia tahun depan dalam tur pra musim mereka yang katanya akan ke Australia (ini sih maunya gw🙂 ).

Fenomena kedatangan artis ini memiliki berbagai macam efek, dari sisi ekonomi, sisi tekhnologi pertunjukan dan sisi ideologi. Mari kita bahas satu per satu, dari sisi ekonomi kedatangan SRK dkk ini tidak hanya akan menguntungkan pihak sponsor yang mendatangkan mereka, tapi akan juga mempengaruhi tingkat perjalanan udara yang akan membawa calon penonton ke Jakarta, atau juga para angkutan darat seperti bus, taksi, angkot atau bahkan tukang ojek di sekitar tempat pertunjukan, karena tempat dia konser kali ini berada di Sentul, yang kadangkala angkutan umum masih agak ribet.  Selain itu, kedatangannya akan mempengaruhi tingkat hunian hotel, penginapan atau bahkan kos-kosan di sekitar lokasi, menambah penghasilan tukang parkir, pedagang asongan hingga pemulung.  Memberi efek ekonomi ke banyak pihak bukan?

Dari sisi Tekhnologi pertunjukan maka penampilan dari sang bintang akan kembali membawa warna bagi semua entertainer di Indonesia ini yang beberapa waktu ke belakang ini seolah-olah sangat mendewakan seni yang berasal dari Korea Selatan, kedatangan SRK ini akan merefresh itu semua, sehingga apa yang ditampilkan di TV tidak akan seragam lagi.  Jangan heran jika beberapa waktu ke depan konsep seni opera dengan setting panggung yang khas SRK akan sedikit mengganggu dominasi budaya Kpop yang memuakkan itu, pengennya sih gitu.

Dari sisi ideologi, ini yang agaknya harus kita beri pemahaman pada para penonton terutama mereka-mereka yang masih labil.  Agak miris melihat beberapa fans SRK yang menari-nari ala India dan menyanyi di luar lobby hotel tempat dia menginap hanya untuk menarik perhatian sang Bintang yang bahkan tidak melirik mereka sedang berjoget ria. Tidakkah itu perbuatan sia-sia?. Film India atau yang lebih dikenal dengan nama Bollywood rata-rata mengagungkan perbuatan balas dendam, lalu menggampangkan setiap masalah dengan menyelesaikannya melalui tarian, dalam kehidupan nyata apakah mereka di India sana melakukannya juga? rasanya tidak.

So..

Baiklah, jika ada yang akan menonton SRK malam ini, itu hak anda.

Jika anda ngefans berat pada dia bahkan sampai menangis tersedu-sedu karena tidak bisa menontonnya konser malam ini, maka betapa beruntungnya anda tidak terjebak kemacetan di lokasi konser.

Jadi fans boleh, tapi tidak juga membuat anda menjadi jiwa-jiwa terjajah. Mendewakan sang Idola yang membuat anda menderita.  Jika itu telah terjadi pada anda maka bertobatlah.

Karena semua yang berlebihan itu jelas tidak baik.

Sekian

See ya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s