Mengapa Cabai?

Resign dari sebuah pekerjaan yang meminta 24 jam waktu untuk kantor adalah sebuah anugerah yang tak terkira. Seolah lepas dari belenggu atas nama kontrak kerja dan kebutuhan perusahaan. hahaha. Setelah resign dari kantor yang agak “nganu” itu akhirnya aku pun memiliki banyak waktu luang untuk mengamalkan ilmu pertanian yang diperoleh di dunia kuliah. Setelah mencoba Jagung, mencoba memperbaiki coklat berusia 12 tahun, walaupun hasilnya akhirnya tidak memadai. Maka di awal Februari kemarin aku memutuskan untuk memulai menanam Cabai Merah.

Mengapa Cabai? Cabai adalah salah satu hasil pertanian yang selalu terpengaruh inflasi, setiap kali event agama seperti bulan puasa atau pun di akhir tahun/tahun baru pasti akan selalu mempengaruhi harga cabai, meskipun belum diresmikan sebagai salah satu sembako, namun Cabai sudah menjadi kebutuhan pokok di masyarakat.

Mengapa Cabai? karena harganya selalu merangkak naik, dan jarang di bawah Rp. 30000 per kilogram.

Mengapa Cabai? karena budidaya cabai belum pernah aku kerjakan. Budidaya Cabai membutuhkan dedikasi tinggi, “halaahh”

Saat ini, cabai yang aku tanam sudah berbuah. Misi pertama untuk menumbuhkan dan merawatnya hingga berbuah sukses, misi kedua adalah mencari ramuan yang tepat agar buah yang dihasilkan panjang dan berisi, agar harga jualnya meningkat.

 

Jpeg

Iklan

Pestisida Nabati

Sesuai janji beberapa bulan lalu, sejak blog ini aktif kembali, akan lebih sering sharing tentang anggrek. Tapi kali ini, bukan anggrek yang akan disharing, tapi soal Pestisida Nabati.

Pestisida nabati apa itu ? Pestisida yang diracik dari bahan bahan nabati tentunya alami dan biodegradable. Keuntungannya : 1. Bahan mudah didapat.

2. Tidak merusak tanah.

3. Murah dan mudah dibuat.

Namun harus diperhatikan, pestisida nabati ini tidak instant seperti pestisida kimiawi, sehingga kita mesti rajin melakukan aplikasi ke tanaman. Musim hujan seperti saat ini adalah waktunya hama menyerang.

Aplikasi larutan Kunyit dan bawang putih (resep pestisida nabati yang didapat dari berbagai sumber) ke tanaman cabai yang terserang kutu (aphids dkk) mudah mudahan berhasil membantu cabai merah ini bertahan.

Nb : pestisida ini masih dalam tahap ujicoba, faktor keberhasilan masih harus diuji. Akan terus diupdate disini. 😀

Bunyi Hujan

Tik tik …..

Truk.. truk..

Trang… trang…

Beeeesssss… besssss….

Suuurrrr… suuurrrr…

Dimana mana bunyi hujan mungkin berbeda beda.

Tapi dimana mana juga yang namanya hujan pasti basah. 🙂

*batu 4*

Test

Ini adalah tulisan pertama di 2018, dan mungkin juga tulisan pertama sejak terakhir kali upload tulisan disini. Lupa kapan nya.

Mudah mudahan mood nulis kembali, setelah hilang beberapa lama.

Tulisan ke depan akan lebih banyak sharing tentang anggrek dan keluarga.

Salam hangat dari kami.

Andi & Dhila

Gugup 

Langkahku terhenti di sudut bandara 

Menatap sekeliling untuk memastikan bahwa aku lebih dulu tiba dari kamu 

Dan, memang aku lebih dulu tiba, aku berdiri di sudut bandara, orang berlalu lalang tanpa saling sapa 

Aku gugup, aku kelu. 

Kamu berjalan menuju ke arah ku, melambaikan tangan 

Ketukan

Kita tak lagi terbiasa menuliskan sesuatu dengan sebuah pena.
Kita tak lagi terbiasa mengatakan sesuatu dengan sebuah pena.
Kita tak lagi terbiasa dengan tulisan tangan sendiri, dan lebih suka tulisan yang diterjemahkan dengan sebuah ketukan.
Ketukan…
Hanya sebuah ketukan untuk memulainya, memulai sebuah ide, menuangkannya dalam berbagai media

Semua berubah saat layar sentuh menyerang.