Seharian di Kawasan Cijeruk

Cijeruk…

Kecamatan ini merupakan salah satu penghasil nenas terbesar di Kabupaten Bogor, setelah sekian lama (hampir 2 tahun kayaknya) akhirnya berkunjung juga ke daerah itu lagi.  Ekspektasi pertama yang diharapkan adalah adanya beberapa orang penjual nenas yang “nongkrong” di pinggir jalan. Tapi, ekspektasi tetaplah sekedar ekspektasi. Karena yang ditemukan adalah banyaknya penjual durian di pinggir jalan, dari mulai kawasan Palasari hingga ke Cigombong, dan masing-masing penjual durian itu memiliki pembeli yang datang bermobil-mobil.  Kalau dilihat dari plat mobilnya sih mereka ini pengunjung dari Bogor dan Jakarta.

Jadi pengen nulis tentang durian.

Kita cek dari web Wikipedia, tentang durian.

Durian adalah nama tumbuhan tropis yang berasal dari wilayah Asia Tenggara, sekaligus nama buahnya yang bisa dimakan. Nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Sebutan populernya adalah “raja dari segala buah” (King of Fruit). Durian adalah buah yang kontroversial, meskipun banyak orang yang menyukainya, namun sebagian yang lain malah muak dengan aromanya.

Sesungguhnya, tumbuhan dengan nama durian bukanlah spesies tunggal tetapi sekelompok tumbuhan dari marga Durio.[1] Namun demikian, yang dimaksud dengan durian (tanpa imbuhan apa-apa) biasanya adalah Durio zibethinus. Jenis-jenis durian lain yang dapat dimakan dan kadangkala ditemukan di pasar tempatan di Asia Tenggara di antaranya adalah lai (D. kutejensis), kerantungan (D. oxleyanus), durian kura-kura atau kekura (D. graveolens), serta lahung (D. dulcis). Untuk selanjutnya, uraian di bawah ini mengacu kepada D. zibethinus.

Di Indonesia yang memiliki keragaman jenis durian kita akan menemukan berbagai varian dari durian ini, diantara jenis durian ini sudah diakui secara nasional sedangkan beberapa diantaranya adalah jenis lokal yang belum dikenal secara luas. Durian/varietas durian unggul ada sebanyak 55 jenis hingga 2005 terdapat 38 kultivar unggul yang telah diseleksi dan diperbanyak secara vegetatif.  Beberapa jenis durian ini adalah :

  • ‘Gapu ‘, dari Puncu, KediriJawa Timur
  • ‘Hepe’, bijinya kempes dengan daging tebal
  • ‘Kelud’, dari Puncu, Kediri, Jawa Timur
  • ‘Ligit’, dari Kutai
  • ‘Mawar’, dari Long Kutai
  • ‘Ripto’, dari Trenggalek
  • ‘Salisun’, dari Nunukan
  • ‘Selat’, dari Jaluko, Muaro Jambi
  • ‘Sememang’, dari Banjarnegara
  • ‘Tong Medaye’, dari LombokNTB
  • ‘Bentara’, dari Kerkap, Bengkulu Utara
  • ‘Bido Wonosalam’, dari Jombang, Jawa Timur
  • ‘Perwira’, dari Simapeul, Majalengka
  • ‘Petruk’, dari Dukuh Randusari, Desa TahunanJepara, Jawa Tengah[8]
  • ‘Soya’, dari AmbonMaluku
  • ‘Sukun’, bijinya kempes dengan daging tebal
  • ‘Sunan’, dari Boyolali
  • ‘Kani’ (“chanee”, durian bangkok)
  • ‘Otong’, (alihnama dari durian “monthong”, durian bangkok, di Malaysia disebut klon D159)

Dari Bogor sendiri ada beberapa jenis durian yang sangat disukai oleh masyarakat, dan ini mungkin yang banyak dijual di Cijeruk kemarin, durian Rancamaya atau biasa dikenal sebagai durian Mas adalah salah satu jenis durian ini.

Deskripsi singkat dari Durian ini adalah Durian ini berasal dari Rancamaya, Bogor, Jawa Barat, telah dilepas sebagai varietas unggul. Bentuk buahnya lonjong dengan pangkal meruncing. Warna kulit buah kuning kemerahan dengan ketebalan antara 5-10 mm. Bentuk durinya runcing dengan susunan rapat. Daging buah berwarna kuning menyala, tebal, cenderung kering, berlemak, berserat halus, dan rasanya sangat manis. Aromanya harum dan tidak begitu tajam. Jumlah pongge dalam setiap buah antara 2035 buah. Jumlah biji sempurnanya 20-30. Bentuk biji lonjong dengan ukuran sedang. Bobot buah rata-rata antara 1, 5-2 kg. Produksi buah sekitar 50-200 buah/pohon/tahun. Durian ini tahan penyakit busuk akar, tetapi tidak tahan hama penggerek buah (http://naturindonesia.com/tanaman-pangan/tanaman-buah-dan-sayuran-d/650-durian-si-mas.html)

Image

Selain durian Mas ada juga durian yang dikenal dengan nama durian Matahari.
Dinamai matahari lantaran warna dagingnya kuning cerah. Rasanya sangat enak, daging buah cukup tebal. Reza menemukan pertama kali di daerah Cimahpar, Bogor, tahun 1997. Ia tumbuh di tanah milik seorang warga bernama Pak Ukong. Saat itu varietasnya tergolong baru dan belum memiliki nama.

Selera?

Pastinya..hehhe

Kadangkala anda akan menemukan beberapa orang yang tidak menyukai durian, bahkan dengan mencium aromanya saja mereka akan muntah.  Bagi anda penyuka durian mungkin ada beberapa hal yang wajib anda perhatikan sebelum makan durian yaitu :

  • Penderita hipertensi perlu hati-hati dengan buah durian ini karena kandungan alkohol, fosfor dan natriumnya tinggi tapi kadar kaliumnya rendah sehingga dapat meningkatkan tekanan darah.
  • J.R. Croft dalam bukunya mengingatkan agar makan durian jangan berbarengan dengan alkohol karena akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
  • Kandungan kalsium dan zat besi pada durian cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan sembelit. Padahal, sebenarnya durian mengandung cukup serat yang seharusnya melancarkan buang air besar.
  • Mereka yang berniat menurunkan berat badan perlu hati-hati karena kadar kalori pada durian cukup tinggi.
  • Kadar gula yang cukup tinggi pada durian, juga perlu diwaspadai oleh para penderita diabetes.
  • Kebanyakan makan durian dapat mengakibatkan tubuh terasa lemas, diare, dan mual gara-gara kandungan argininnya.
  • Para ahli mengingatkan agar sebelum dan sesudah makan durian harus banyak minum air untuk mencegah dehidrasi.

(sumber : http://intisari-online.com/read/durian-si-raja-buah-asli-indonesia)

Akhirnya sekian dulu sedikit review tentang Durian, buah lokal yang dicintai sekaligus dibenci, anyway sudah sepatutnya kita memperhatikan perkembangan buah lokal Indonesia.  Kalau bukan kita, siapa lagi yang memberi perhatian.

Sekian..

See yaa